Pakan Ikan Nila

Cara Membuat Pakan Ikan Nila: Formulasi, Proses, dan Biaya

Oleh Adit · Profil penulis · Diterbitkan 3 September 2026 · 9 menit baca
Ikan nila (tilapia) di kolam
Ikan nila, target utama pakan mandiri yang dibuat sendiri. Foto: Nafisathallah, CC BY 4.0. Gambar dipotong dan dikompresi untuk web.

Pakan nila mandiri tidak dimulai dari mesin. Mulainya dari angka. Berapa protein yang dibutuhkan, berapa harga bahan di daerah Anda, lalu berapa FCR yang didapat setelah pakan masuk kolam.

Contoh di bawah memakai target protein kasar sekitar 27 persen untuk nila fase pembesaran. Ini contoh hitungan awal, bukan resep yang langsung cocok di semua kolam. Kualitas bahan, ukuran ikan, suhu air, padat tebar, dan cara pemberian pakan tetap ikut menentukan hasil.

Catatan Adit

Saya dulu juga beli pakan pabrik terus, sampai iseng mulai catat semua pengeluaran. Baru kelihatan pakan makan 60 sampai 70 persen biaya produksi. FCR saya waktu itu 1,8. Teman yang bikin pakan sendiri sudah 1,3. Selisih segitu kerasa banget di kantong tiap panen. Makanya saya selalu bilang, mulainya dari angka, bukan dari mesin.

Tentukan Target Nutrisinya Dulu

Nila kecil membutuhkan pakan dengan protein lebih tinggi dibanding nila yang sudah masuk fase pembesaran. Untuk contoh ini, kita memakai kisaran 26 sampai 28 persen protein kasar. Angka tersebut masih perlu disesuaikan dengan strain, bobot ikan, sistem kolam, dan target pertumbuhan.

Jangan berhenti di protein. Energi, lemak, serat, mineral, kestabilan pelet, dan mutu bahan juga perlu dicek. Pakan dengan angka protein bagus tetap bisa boros kalau cepat hancur atau tidak dimakan.

Contoh Formulasi Pakan Nila 100 kg

BahanJumlahAsumsi proteinSumbangan protein
Tepung ikan20 kg55%11,00 kg
Bungkil kedelai25 kg44%11,00 kg
Dedak halus25 kg12%3,00 kg
Tepung jagung20 kg9%1,80 kg
Tapioka8 kg1%0,08 kg
Premix2 kg0%0 kg
Total100 kg26,88 kg

Hitungan kasarnya menghasilkan protein 26,88 persen. Kandungan bahan nyata bisa berbeda dari tabel pemasok. Kalau produksi sudah rutin, kirim sampel bahan dan pelet jadi ke laboratorium supaya angka yang dipakai bukan sekadar asumsi.

Catatan Adit

Protein 26,88 persen itu cuma angka di kertas. Di lapangan, mutu bahan beda-beda tiap daerah. Bungkil kedelai yang stabil di tempat saya ya yang 44 persen, tapi ada kiriman yang nyampe di bawah itu. Saya cek pakai tangan dan hidung dulu, label belakangan. Bahan apek atau menggumpal, langsung tolak.

Belum tahu cara memilih dedak, tepung ikan, atau bahan pengganti di daerah Anda? Baca panduan bahan baku pakan ikan.

Bungkil kedelai, sumber protein dalam formulasi pakan nila
Bungkil kedelai menyumbang protein kedua terbesar setelah tepung ikan pada formulasi contoh. Foto: United Soybean Board, CC BY 2.0. Gambar dipotong dan dikompresi untuk web.

Simulasi Biaya Bahan

Harga berikut hanya contoh perhitungan. Ganti dengan harga tunai dari dua atau tiga pemasok terdekat sebelum memutuskan produksi.

BahanHarga contohBiaya
Tepung ikan 20 kgRp11.000/kgRp220.000
Bungkil kedelai 25 kgRp9.000/kgRp225.000
Dedak 25 kgRp3.500/kgRp87.500
Jagung 20 kgRp6.000/kgRp120.000
Tapioka 8 kgRp7.000/kgRp56.000
Premix 2 kgRp20.000/kgRp40.000
Total bahan 100 kgRp748.500

Biaya bahan pada simulasi ini Rp7.485 per kg. Masukkan juga listrik, tenaga kerja, penyusutan mesin, kemasan, bahan terbuang, dan pengeringan. Kalau biaya proses Rp700 sampai Rp1.200 per kg, biaya jadi berada sekitar Rp8.185 sampai Rp8.685 per kg.

Bandingkan angka itu dengan harga pakan yang benar-benar Anda beli, bukan harga dari iklan. Selisih Rp1.000 per kg baru terasa kalau mutu pelet stabil dan FCR tidak memburuk.

Catatan Adit

Harga per kg itu nomor dua buat saya. Yang pertama FCR. Pabrikan rata-rata 1,6 sampai 1,8. Alumni PPBIB yang rajin nyatet rata-rata turun ke 1,3. Selisihnya sekitar Rp3 sampai 4 juta per siklus per kolam. Jadi kalau ada yang nawarin pakan murah, tanya dulu FCR-nya berapa.

Mau Hitungan dengan Harga Bahan di Daerah Anda?

Tabel biaya di atas memakai harga contoh. Kalau mau, kirim daftar harga dari pemasok lokal Anda lewat WhatsApp, nanti dibantu lihat hitungan formulasi dan biayanya. Angka FCR kolam Anda juga bisa langsung dihitung di kalkulator PPBIB.

Urutan Membuat Pelet

Pelet pakan ikan hasil cetakan
Pelet pakan ikan siap pakai, hasil akhir dari proses pencampuran, pencetakan, dan pengeringan. Foto: Narek75, CC BY-SA 4.0. Gambar dipotong dan dikompresi untuk web.
  1. Cek bahan. Tolak bahan yang apek, berjamur, menggumpal, atau berubah warna.
  2. Haluskan dan timbang. Ukuran partikel yang terlalu berbeda bikin campuran mudah terpisah.
  3. Campur bahan mikro lebih dulu. Premix dicampur dengan sebagian dedak, baru masuk ke adonan utama.
  4. Tambahkan air bertahap. Adonan harus bisa dicetak, tetapi tidak becek.
  5. Cetak sesuai bukaan mulut ikan. Pelet yang terlalu besar akan tercecer.
  6. Keringkan sampai aman disimpan. Timbang sebelum dan sesudah pengeringan agar susut produksi tercatat.
Catatan Adit

Dari puluhan peserta yang saya dampingi, yang gagal jarang di resep. Kebanyakan di pencampuran dan pengeringan. Bahan nggak rata, pelet pecah di air, ikan nggak makan, sisanya busuk di dasar kolam. Resep sebagus apa pun percuma kalau peletnya hancur.

Pelet Tenggelam atau Apung?

Pelet pabrikan untuk nila umumnya mengapung, jadi sisa pakan mudah terlihat. Pelet buatan sendiri biasanya tenggelam karena dicetak tanpa proses ekstrusi. Itu bukan masalah besar selama pelet tahan di air dan cara tebarnya disesuaikan.

Kalau pelet Anda tenggelam, tebar sedikit demi sedikit di titik pakan yang sama, lalu amati sampai habis. Sisa pakan setelah 20 sampai 30 menit artinya porsinya berlebih atau peletnya terlalu cepat hancur, dua-duanya menaikkan FCR. Uji dulu daya tahannya: rendam beberapa butir pelet di air kolam. Kalau langsung hancur, perbaiki campuran dan pengeringan sebelum dipakai dalam jumlah banyak.

Jangan Langsung Dipakai untuk Semua Kolam

Uji dulu pada satu kelompok ikan dengan kondisi yang bisa dicatat. Timbang biomassa awal, jumlah pakan, mortalitas, dan biomassa akhir. Bandingkan dengan satu kelompok kontrol yang memakai pakan lama.

Rumus FCR adalah total pakan dibagi pertambahan biomassa. Masukkan catatan panen ke Kalkulator FCR PPBIB. Pakan yang lebih murah Rp1.500 per kg belum tentu hemat jika FCR naik dari 1,3 menjadi 1,7.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa protein pakan yang dibutuhkan nila fase pembesaran?

Contoh di artikel ini memakai 26 sampai 28 persen protein kasar. Angka tersebut masih perlu disesuaikan dengan strain, bobot ikan, padat tebar, dan target pertumbuhan. Hitungan lengkapnya ada di tabel formulasi.

Pelet tenggelam tidak masalah untuk nila?

Tidak masalah, asal peletnya tahan di air dan cara tebarnya benar. Nila makan di semua lapisan air. Tebar pelet tenggelam sedikit demi sedikit di titik yang sama dan amati sampai habis. Kalau masih tersisa setelah 20 sampai 30 menit, kurangi porsinya. Penjelasannya ada di bagian Pelet Tenggelam atau Apung?.

Tepung ikan mahal, bisa diganti bahan lain?

Bisa, selama sumbangan proteinnya dihitung ulang dan mutu bahannya dicek. Panduan bahan baku pakan ikan menjelaskan pilihan pengganti tepung ikan dan cara menilai mutunya sebelum dibeli.

Berapa biaya membuat pakan nila sendiri per kg?

Pada simulasi di atas, bahan 100 kg keluar Rp748.500 atau sekitar Rp7.485 per kg. Setelah ditambah biaya proses, biaya jadi sekitar Rp8.185 sampai Rp8.685 per kg. Angka ini hanya contoh, ganti dengan harga bahan di daerah Anda. Lihat kembali tabel biaya untuk rinciannya.

Formulasi nila ini bisa dipakai untuk lele?

Sebaiknya tidak langsung dipakai. Kebutuhan protein dan porsi bahan lele berbeda dengan nila. Contoh formulasi lele sudah tersedia di panduan membuat pakan lele mandiri.

Mau Membawa Bahan dari Daerah Anda?

Di pelatihan PPBIB, peserta belajar menghitung formulasi, menimbang bahan, mencampur, mencetak pelet, lalu membedah biaya produksinya. Kelas praktik diadakan di Cijeruk, Bogor.

Lanjut baca